I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Habitat merupakan ruang
dimana organisme hidup. Bentuk komunitas disuatu
tempat ditentukan oleh keadaan dan sifat-sifat individu sebagai reaksi terhadap
faktor lingkungan yang ada, dimana individu ini akan membentuk populasi didalam
komunitas tersebut. Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan
spesiesnya (species richness), jumlah spesies yang mereka miliki. Mereka juga
berbeda dalam hubungannya dalam kelimpahan relatif (relative abundance)
spesies. Beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan
beberapa spesies yang jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies
yang sama dengan jumlah spesies yang semuanya umum ditemukan.
Keanekaragaman jenis seringkali disebut heterogenitas jenis, yaitu karakteristik unik dari komunitas suatu organisasi biologi dan merupakan gambaran struktur dari komunitas. Komunitas yang mempunyai keanekaragaman tinggi lebih stabil dibandingkan dengan komunitas yang memiliki keanekaaragaman jenis rendah. Analisa vegetasi adalah salah satu cara untuk mempelajari tentang susunan (komposisi) jenis dan bentuk struktur vegetasi (masyarakat tumbuhan). Analisi vegetasi dibagi atas tiga metode yaitu : (1) mnimal area, (2) metode kuadrat dan (3) metode jalur atau transek. Salah satu metode dalam analisa vegetasi tumbuhan yaitu dengan menggunakan metode transek. Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya paling baik dilakukan dengan transek. Maka dari itu untuk mengetahui subhabitat vegetasi yang ada di hutan sekunder UR, praktikum kali ini membahas tentang karakteristik habitat dengan metode jalur atau transek
Keanekaragaman jenis seringkali disebut heterogenitas jenis, yaitu karakteristik unik dari komunitas suatu organisasi biologi dan merupakan gambaran struktur dari komunitas. Komunitas yang mempunyai keanekaragaman tinggi lebih stabil dibandingkan dengan komunitas yang memiliki keanekaaragaman jenis rendah. Analisa vegetasi adalah salah satu cara untuk mempelajari tentang susunan (komposisi) jenis dan bentuk struktur vegetasi (masyarakat tumbuhan). Analisi vegetasi dibagi atas tiga metode yaitu : (1) mnimal area, (2) metode kuadrat dan (3) metode jalur atau transek. Salah satu metode dalam analisa vegetasi tumbuhan yaitu dengan menggunakan metode transek. Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya paling baik dilakukan dengan transek. Maka dari itu untuk mengetahui subhabitat vegetasi yang ada di hutan sekunder UR, praktikum kali ini membahas tentang karakteristik habitat dengan metode jalur atau transek
1.2
Tujuan
a.
Mempelajari cara menggambar diagram
profil yang menunjukkan karakteristik suatu habitat
b.
Mempelajari cara meliput variasi suhu
lingkungan, baik secara spasial dan temporal dalam sebuah habitat
c.
Mempelajari cara membuat deskripsi
tertulis tentang karakteristik suatu habitat berdasarkan parameter-parameter
yang diamati dan dicatat dilapangan.
II TINJAUAN
PUSTAKA
Habitat adalah suatu lingkungan dengan kondisi
tertentu yang dapat mendukung kehidupan suatu spesies secara normal. Menurut
Odum (1993), habitat merupakan suatu kawasan berhutan maupun tidak berhutan
yang menjadi tempat ditemukannya organisme tertentu. Sehingga, setiap habitat
satwaliar akan didukung oleh komponen biotik dan abiotik yang disesuaikan
dengan kebutuhan satwaliar tersebut, seperti air, udara, iklim, vegetasi, mikro
dan makrofauna juga manusia (Alikodra 2002). makhluk hidup tidak dapat lepas dari
lingkungannya baik itu makhluk hidup lainnya (biotik) maupun makhluk tak hidup
(abiotik). Dengan interaksi antara kedua komponen tersebut, ekosistem akan
selalu tumbuh berkembang sehingga menimbulkan
perubahan ekosistem (Latifah 2005).
Di dalam lingkungan terjadi interaksi kisaran yang
luas dan kompleks. Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang menggabungkan
pendekatan hipotesis deduktif, yang menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk
menguji penjelasan hipotesis dari fenomena-fenomena ekologis (Supriatno 2001).
Ekosistem
adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara
makhluk hidup dengan lingkungannya dan antara komponen komponen tersebut
terjadi pengambilan dan perpindahan
energi, daur materi dan produktivitas (Supriatno 2001).
Ekologi mempunyai tingkatan pengkajian yaitu unsure
biotik dan abiotik. Lingkungan meliputi komponen abiotik seperti suhu, udara,
cahaya dan nutrient. Yang juga penting
pengaruhnya kepada organisme adalah komponen biotik yakni semua
organisme lain yang merupakan bagian dari lingkungan suatu individu
(Rahardjanto 2001).
Semua faktor lingkungan dapat bertindak sebagai faktor
pembatas bagi suatu organisme, baik secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri.
Beberapa faktor lingkungan yang sering menjadi faktor pembatas bagi organisme
secara umum adalah :
1. Cahaya
Matahari
Cahaya Matahari merupakan faktor
lingkungan yang sangat penting, karena sebagai sumber energi utama bagi seluruh
ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh
radiasi matahariyang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik
dalam jumlah sedikit maupun banyak dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme
tertentu.
2. Suhu
Udara
Suhu merupakan faktor lingkungan
yang dapat berperan langsung maupun tidak langsung terhadap suatu organisme.
Suhu berperan dalam mengontrol proses-proses metabolisme dalam tubuh serta
berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya terutama suplai air.
3. Air
Air merupakan faktor lingkungan yang
sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air dalam biosfer
ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya.
Siklus air dibumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada
setiap ekosistem pada akhirnya akan menentukan jumlah keragaman organisme yang
dapat hidup dalam ekosistem tersebut.
4. Ketinggian
Tempat
Ketinggian suatu tempat diukur mulai
dari permukaan air laut. Semakin tinggi suatu tempat, keragaman gas-gas udara
semakin rendah sehingga suhu suhu udara semakin rendah.
5. Kuat
arus
Kuat arus dalam suatu perairan
sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar sungai, suhu air, kadar
oksigen, dan kemampuan organisme untuk mempertahankan posisinya diperairan
tersebut. Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan
posisinya. (Harjosuwarno 1990).
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses
kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital, yang secara
kolektif disebut metabolism, hanya berfungsi di dalam kisaran suhu yang relatif
sempit, biasanya antara 0-40o C (Otto 1926).
Setiap
organisme mempunyai habitat sesuai dengan kebutuhannya. Apabila ada
gangguan yang menimpa pada habitat akan menyebabkan terjadinya perubahan
pada komponen habitat, sehingga ada kemungkinan habitat menjadi tidak cocok
bagi organisme yang menggunakannya (Indriyanto
2006).
Ekosistem tidak akan tetap
selamanya, tetapi selalu mengalami perubahan. Antara faktor biotik dan abiotik
selalu mengadakan interaksi, hal inilah yang merupakan salah satu penyebab perubahan. Perubahan suatu ekosistem
dapat disebabkan oleh proses alamiah atau karena campur tangan manusia (Latifah
2005).
Hubungan tersebut di atas, pada
umumnya terjadi antara masyarakat tumbuh-tumbuhan dengan habitat dan
lingkungannya (lingkungan abiotik), antara tumbuhan dengan tumbuhan, antara
tumbuhan dengan biota lain, dan antara tumbuhan dengan manusia (lingkungan
biotik). Hubungan masyarakat tumbuhan dengan lingkungan abiotik terbentuk
antara tumbuh-tumbuhan dengan tanah/lahan sebagai substrat atau habitat,
fisiografi dan topografi tanah (konfigurasi permukaan bumi), dan lingkungan
iklim (cahaya matahari, suhu, curah hujan dan kelembaban, dan udara atmosfir)
(Arijani 2006).
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya
terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam
mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik
diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme
lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Surasana
1990).
Analisis vegetasi ialah suatu cara mempelajari susunan
dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan,
stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan
data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari
penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh
informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan
(Michael 1994).
Dengan demikian pada suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu luas
tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara
keseluruhan yang disebut luas minimum. Unit penyusun vegetasi (komunitas)
adalah populasi, sedangkan unit penyusun populasi adalah semua individu yang
berada di tempat praktikan dilakukan. Oleh karena itu, dalam penelitian
mengenai vegetasi tumbuhan dilakukan dilakukan dengan cara mengamati
individu-individu yang terdapat dalam populasi tersebut. Kajian mengenai
vegetasi mengungkapkan sifat dari setiap populasi sehingga dapat menggambarkan
vegetasi berdasarkan karakteristik suatu populasi tersebut (Surasana 1990).
III METODE
3.1 Alat dan Bahan
1. Meteran
(100 m)
2.
Meteran (1 m)
3.
Termometer
4.
Kompas
5.
Jam tangan/ penunujuk waktu lain
6.
Kamera digital
7.
Penggaris metal
8.
Kertas Grafik
9.
Buku catatan
10. Alat
tulis (Pensil dan penghapus)
3.2 Cara Kerja
(dipasifkan)
1. Kunjungi
lokasi praktikum yang telah dipilih, dan sebaiknya lokasi yang dipilih memiliki
kondisi lingkungan heterogen, dimana terdapat banyak subhabitat
2.
Dilakukan pengamatan kondisi lingkungan
secara umum pada lokasi-lokasi yang dikunjungi :
a. Bagaimana
pola tutupan vegetasi.
b. Tipe-tipe
vegetasi yang ada.
c. Ada
tidaknya semak atau pohon-pohon tunggal.
d. Ada
tidaknya badan air ( kolam, kanal, kubangan rawa).
e. Ada
tidaknya lahan terbangun.
f. Ada
tidaknya tanah terbuka (tanpa tutupan vegetasi maupun bangunan).
g. Ada
tidaknya relief (perbedaan ketinggian) pada bentang lahan yang ada.
3.
Sepanjang lokasi praktikum dibuat sebuah
transek sepanjang 100 m dengan meteran.
4.
Sepanjang transek, diamati dan didata
berapa subhabitat dan panjang subhabitat sepanjang kawasan transek tersebut.
5.
Masing-masing subhabitat difoto dengan
kamera digital.
6.
Masing-masing subhabitat digambar organisme
apa saja yang dominan pada subhabitat tersebut.
7.
Setelah dicatat dan diamati subhabitat
masing-masingnya, maka dapat dibuat diagram profil menggunakan aplikasi paint.
8.
Untuk grafik proporsi dari masing-masing
subhabitat, kita dapat menggunakan microsoft excel untuk membuat grafik
perbandingan transek 1 dan transek 2( data dari kelompok.
9.
Secara berkala dilakukan pengukuran suhu
permukaan tanah dan suhu air pada pukul 08.00, 10.00,12.00, 14.00 dan 16.00
dari setiap masing-masing habitat.
10. Setelah
data pengukuran suhu permukaan tanah dan suhu air didapat, maka selanjutnya
membuat grafik suhu dengan microsoft excel.
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1, Suhu 0c
berdasarkan subhabitat
|
Tabel Suhu (°C ) Berdasarkan Subhabitat
|
|||||
|
Tipe Subhabitat
|
08.30
|
10.30
|
12.30
|
14.30
|
16.30
|
|
Perairan
|
25
|
25
|
25
|
25
|
25
|
|
Habitat terbuka
|
28
|
35
|
33
|
33
|
33
|
|
Habitat tertutup
|
26
|
27
|
28
|
28
|
28
|

Grafik
1, Suhu 0c berdasarkan subhabitat
Tabel
2. Diagram Profil Subhabitat Arboretum UR
|
|
Semak
|
Rawa
|
Jalan
|
Hutan
Sekunder
|
Lahan
terbuka
|
Hutan
akasia
|
Perairan
|
|
Transek I
|
1,7
|
0
|
1,6
|
62
|
0
|
24
|
9
|
|
Transek II
|
10
|
15
|
2,5
|
50
|
20
|
0
|
0
|

Grafik
Diagram Profil Subhabitat Arboretum UR

Paint
diagram grafik subhabitat di arboretum UR
4.2
Pembahasan
Praktikum
ekologi pada
hari minggu, tanggal 16 oktober 2016 membahas tentang karakteristik habitat yang berlokasi di arboretum UR dimulai
dari pukul 08.30-16.30 WIB.
Dilokasi kelompok besar dibagi menjadi dua kelompok
kecil, masing-masing membuat satu transek. Dari hasil pembuatan transek I dan transek II
didapatkan 3
jenis subhabitat, yaitu perairan, habitat terbuka dan habitat tertutup. Keragaman
jenis subhabitat yang didapat menunjukkan bahwa bentang ruang habitat ini
bersifat heterogen (diskontinum), karena banyak terdapat batas-batas
atarhabitat bagi organisme yang mendiami subhabitat masing-masing. Pada daerah
yang dijadikan transek juga terdapat perbedaan ketinggian (relief),pada bentang
lahan dan juga tidak terdapat adanya bangunan. Adanya heterogen
seperti ini menyebabkan
adanya perbedaan struktur atau karakter fisik dalam masing-masing subahbitat,
termasuk dari kondisi suhu yang nantinya akan sangat memengaruhi jenis
organisme yang mendiami habitat tersebut.
Pada
habitat pertama, yaitu
habitat terbuka. Banyak ditemukan tumbuhan-tumbuhan paku
dan rumput-rumput liar. Ditemui beberapa jenis
paku-pakuan baik yang terestrial maupun epifit di beberapa tumbuhan perdu.
Organisme yang diperkirakan dapat tinggal di daerah ini diantaranya belalang,
ulat, nyamuk, dan beberapa jenis serangga lainnya. Perbedaan suhu di daerah ini
terlihat cukup signifikan pada pagi hari hingga sore hari, yaitu 28oC
pada pukul(
08.30
WIB), 35oC
pada pukul (10.30 WIB), dan 30oC pada pukul (12.30-14.30-16.30 WIB). Hal ini disebabkan karena jumlah
pohon-pohon yang berperan sebagai kanopi berbeda-
beda jumlahnya. Pada
jalan tanah hanya dijumpai
keberadaan sejumlah rumput-rumput liar dan beberapa anakan pohon akasia di
pinggiran jalan. Kemungkinan organisme yang terdapat di subhabitat ini sedikit,
seperti serangga-serangga tanah yang mampu bertahan di daerah panas dan kering,
contohnya semut. Suhu di subhabitat ini tergolong panas dan kering, suhu
tertinggi mencapai 35oC
pada pukul 10.30
WIB. Hal ini disebabkan karena kurangnya vegetasi tumbuhan yang terdapat di
subhabitat ini sehingga panas matahari langsung diserap oleh permukaan tanah.
Pada habitat
kedua, yaitu perairan ditemukan adanya tumbuhan paku Cyathea gigantea, semak-semak, dan
beberapa pohon kecil di bagian tepi sungai. Air sungai tampak berwarna
kekuningan dan keruh
serta mengalir dengan arus kecil. Kemungkinan organisme
yang hidup di subhabitat ini berupa plankton dan fitoplankton, bentos,
ikan-ikan kecil, paku air, lumut dan beberapa jenis serangga. Suhu pada badan
air bisa dikatakan cukup konstan kisaran 25oC.
Hal ini disebabkan karena adanya beberapa tumbuhan perdu dan pohon yang melindungi
lahan tersebut dari penyinaran matahari secara langsung dan adanya air yang
menguap yang membantu menjaga kelembaban tanah. Lahan terbuka hanya terdapat beberapa pohon akasia
besar, rumput-rumput kecil, dan paku resam. Kemungkinan organisme yang terdapat
di subhabitat ini seperti semut, belalang, dan serangga kecil lainnya. Suhu di
subhabitat ini juga tergolong panas, suhu tertinggi mencapai 25oC.
Hal ini disebabkan karena kurangnya jumlah vegetasi yang menaungi lahan
tersebut sehingga panas matahari langsung terserap oleh tanah.
Pada habitat
ketiga, yaitu habitat tertutup dijumpai banyak sekali tumbuhan dan pohon-pohon besar
yang berperan sebagai kanopi. Terdapat juga banyak serasah dan ranting-ranting
pohon yang menutupi lantai hutan. Beberapa jenis jamur kayu juga ditemui di
hutan ini. Kemungkinan organisme yang hidup di hutan ini, yaitu beberapa
tumbuhan paku-pakuan, tumbuhan liana, pohon-pohon besar, tumbuhan perdu, cacing
tanah, serangga-serangga tanah, ulat, ular, burung, dekomposer dan beberapa
jenis serangga lainnya. Suhu tertinggi yang didapat pada subhabitat ini yaitu 28oC.
Hal ini disebabkan karena adanya pohon-pohon besar yang berperan sebagai kanopi
hutan dan banyaknya pohon yang mampu menjaga kelembaban serta menyediakan kadar
O2 yang tinggi sebagai udara segar sehingga suhu di hutan ini
menjadi sejuk dan tidak panas.
V KESIMPULAN
Dari praktikum
ini maka dapat disimpulkan:
1.
Metode
untuk analisa vegetasi hutan sekunder menggunakan metode transek.
2.
Tipe
ruang subhabitat yang didapat dari hasil pembuatan transek ini, yaitu
diskontinuum atau heterogen. Ini dikarenakan sepanjang
transek 100 m terdapat gab atau kesenjangan di dekat lahan terbuka terdapat
jalan yang lebarnya 10 m
3.
Dari
transek yang telah dibuat, didapatkan adanya habitat
tertutup,habitat terbuka, dam Perairan .Antara transek I dan transek II terdapat perbedaaan
transek, yaitu pada transek ke dua tidak ditemui transek berupa jalan setapak
dan hutan sekunder II.
4.
Perbedaan
suhu antar masing-masing subhabitat tampak jelas. Hal ini dikarenakan adanya
perbedaan pola tutupan (kanopi) masing-masing lahan, jenis atau tipe vegetasi,
keberadaan badan air, dan perbedaan relief serta perbedaan
terkenanya cahaya matahari ke sub-sub habitat sepanjang transek.
VI DAFTAR PUSTAKA
Arrijani, dkk. 2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur
Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango.
Biodiversitas 7(2): 147-153.
Harjosuwarno,
S. 1990. Dasar-dasar Ekologi
Tumbuhan. Fakultas
Biologi UGM:Yogyakarta.
Indriyanto.
2006. Ekologi Hutan. PT.
Bumi Aksara: Bandar Lampung.
Latifah,
S. 2005. Analisis
Vegetasi Hutan Alam. USU Reository:Sumatera Utara.
Michael,P.1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan
Lapangan
dan Laboratorium. UI
Press: Jakarta.
Otto,
Soemarwoto.1926.Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan.
Djambatan: Jakarta.
Rahardjanto,
A. 2001. Ekologi Tumbuhan. UMM Press: Malang.
Supriatno,
B. 2001. Pengantar Praktikum
Ekologi Tumbuhan. FMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia: Bandung.
Surasana.
1990. Pengantar Ekologi
Tumbuhan. ITB: Bandung.
terimakasih kakak/ abang senior permisi copas yah :)
BalasHapus